Radio Philips L-4 26 T, radio paling bergengsi di tahun 1960-an. (Foto: Internet)
*****
SEBELUM tahun 1970 pesawat radio merupakan kebanggaan dan menjadikan sangat prestisius bagi pemiliknya. Hingga tahun 1960-an belum ada warga kampungku yang memilikinya. Bahkan tahun 1950-an, saat radio transistor belum ditemukan, pemilik radio di kampung-kampung harus rajin menjemur batu baterai sebanyak 60 buah untuk sumber tenaganya. Maklum listrik hanya ditemukan di kota-kota.
Ketika murid-murid SR Margosari tempatku sekolah ingin mendengarkan pidato Presiden Soekarno, pak guru mengerahkan muridnya berduyun-duyun ke rumah Lurah Kedondong, ayah Suyanto teman kami. Anak-anak mendengarkan di pendapa, sementara radionya distel di dalam rumah. Apa isinya pidato Bung Karno tersebut, kalau tak salah pencanangan Trikora di Alun-alun Lor Yogyakarta 19 Desember 1961, dalam rangka merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.
Di Desa Pulutan Kecamatan Ngombol kampungku, pemilik radio transistor pertama kali adalah Mas Bari Purbosukarto. Beberapa bulan sekembalinya dari Palembang, dia membeli radio baru merk Ralin. Untuk masa-masa tahun 1962-an harga radio mahal sekali, sehingga Mas Bari pun harus ngepaske (menjual) sawah. Pertama kali datang, radio itu ditaruh di rumah emboknya, Siwa Pawiroinangun. Diletakkan depan pintu rumah dalam, dipasangi kabel yang ditancapkan ke tanah, yang kemudian kutahu itu namanya arde.
Cah ndesa seperti aku dan teman-teman, terkagum-kagum melihat kotak yang bisa bicara dan mengeluarkan bunyi aneka musik dan gamelan tersebut. Saat kenop gelombang diputar-putar untuk mencari sebuah studio siaran, terdengar suara: kruickk, kruick..brbbt brbbt…, dan barulah ditemukan gelombang yang pas. Ketika disetel, penontonnya berjubel. Lebih-lebih bila ada siaran wayang kulit di malam Minggu, seakan orang sekampung tumpah di rumah Siwa Situr. Mbah Wiryodidjojo misalnya, ketika RRI Yogyakarta menampilkan dalang Ki Gondomargono, beliau tahan mendengarkan sampai ngebyar (sampai pagi).
Di tahun-tahun itu, radio benar-benar menjadi lambang prestise. Sejumlah orang yang punya gawe, suka pinjam radio Mas Purbo untuk dipajang. Lik Karsosemadi saat punya gawe nyunati Marno putranya di tahun 1966, pernah juga memajang radio tersebut. Tentunya ini sekadar buat “rungon-rungon” sebelum hiburan puncaknya, yakni wayang kulit dengan dalang Ki Hadisugito.
Apa merk radionya saat itu, aku tidak ingat lagi. Namun semuanya terjadi setelah beberapa tahun Mas Purbo membangun rumah dan buka toko kelontong di kidul ratan. Mas Purbo pernah juga memiliki radio bertenaga lampu, bukan baterai atau listrik seperti lazimnya. Radio dipasang di ruang tamu, sementara lampunya digantung di dalam toko. Sayang, hanya beberapa tahun dimiliki, radio Rusia merk Poga tersebut hilang dicolong maling. Selanjutnya kulihat, lampu sebagai sumber energinya merana di gantungan dimakan debu.
Studio RRI Yogyakarta di Kotabaru. Aku dulu sering ke sini untuk berkirim lagu. (Foto: Gts)
Tapi yang paling berkesan adalah, radio Mas Purbo yang bermerk Philips L4 26 T, made in Holland (Belanda). Radio itu berwarna oranye, baterai 6. Bentuknya seperti tas, bisa ditenteng dan antenenya bisa dilipat ke dalam mengikuti bentuk radio tersebut. Suaranya lebih bening, dan menambah gengsi pemiliknya. Bila malam Minggu tiba, kami bocah kampung suka mendengarkan siaran wayang kulit sambil tidur-tiduran di atas drum minyak, sementara orang dewasa duduk-duduk di dalam sambil macit (makan snack) gemblong (juadah). “Kono dha disambi, nganti ketiban lemut gilo (silakan dicoba, tuh sampai keja-tuhan nyamuk),” kata Mas Purbo kuingat jelas waktu itu, sambil mau memompa lampu petromaksnya yang mulai meredup.
Perlu diketahui, di masa itu siaran wayang di radio tak bisa ditemukan sembarang waktu macam sekarang. Ada tradisi setelah kemerdekaan yang hingga kini tak pernah berubah, siaran wayang di RRI digilir setiap minggu. Minggu ke-1 RRI Semarang (gelombang 76 m), minggu ke-2 RRI Yogyakarta (127,6 + 59,43 m), minggu ke-3 RRI Surakarta (63 m + 123 m), minggu ke-4 Jakarta (41 m) atau Surabaya (75 m). Tapi bila terdapat minggu ke-5 pada bulan tersebut, maka minggu ke-4 lowong tanpa siaran wayang kulit.
Saat kawanku, Mulyono – Ganung – Titit mau pergi mengadu nasib ke Palembang pada tahun 1963, radio Mas Purbo disetel di rumah Mul sampai pagi. Malam itu, Sabtu Paing 7 Desember 1963, RRI Yogyakarta siaran langsung wayang kulit dari Gedung PPBI (Persatuan Perusahaan Batik Indonesia), dengan lakon “Karno Tanding” bersama dalang Ki Tjermowasito (Tulung). Yang nonton banyak sekali, tapi baru pukul 04.00 ketika siaran wayang belum usai, radio tersebut sudah dibawa pulang oleh Mas Titon. Ah, aku kecewa sekali waktu itu.
“Nanti kalau aku sudah bisa cari duit sendiri, pengin beli radio seperti itu,” begitu kataku waktu itu, sepotong khayalan dan “dendam” seorang anak kampung. Tapi pada perkembangan selanjutnya, ketika aku sudah bekerja dan punya duit sendiri, radio model punya Mas Purbo sudah tak ada lagi di pasaran, kecuali bikinan Indonesia. Bahkan ketika aku sempat melawat ke Nederland Oktober 1996, radio obsesiku itu tak juga ditemukan meski di negeri asalnya sekalipun.
Sekitar tahun 1966, selama beberapa bulan Lik Misdi pamanku mengikuti pendidikan peternakan di Solo, selepas PHK dari PN Padisentra Ngombol. Sekali waktu dia pulang membawa radio Philips, nggenteni milik Pakde Sarosa yang ditinggalinya selama di Solo. Kami para ponakan berebut menyetel radio itu. Pernah pula malam-malam radio mungil itu kubawa pulang. Susah sekali menangkap siaran. Diputar sana putar sini gelombangnya, hanya dapat lagunya Bing Slamet “Nonton Bioskop” yang sedang ngetop kala itu. “Malam minggu aku pergi ke bioskup, bergandengan ama pacar nonton koboi….”
Begitulah, di kampungku radio mulai mewabah sejak tahun 1967, saat Orde Baru mulai berhasil menggeliatkan ekonomi anak negeri. Harga radio jadi murah. Dengan uang Rp 4.000,- yang berarti senilai emas 8 gram atau padi dua kwintal, orang sudah bisa beli radio transistor berbaterai 3, yang belakangnya ditutup harbord. Bila semalaman nyetel wayang, pagi harinya baterai tersebut dijemur, agar kuat kembali suaranya. Bahkan ada, baterai itu dikukus (direbus) di atas nasi liwetan.
Pak Sis pamanku membeli radio sekitar tahun 1968, merknya Telesonic, model gelombang mata bagongan. Saban Minggu malam, aku sering nonton ke sana, untuk mendengarkan siaran sandiwara radio “Keluarga Yogya” RRI Yogyakarta. Dari pukul 22.30 hingga pukul 23.30, kami biasa mendengarkan kisah-kisah drama bahasa Jawa karya Sumardjono, dengan bintangnya antara lain: Hastin Atas Asih, Habib Bari, Arif Hartojo, Mimi Natakusuma, Subroto, Sri Lestari Kartaningrat, dan Bagus Giarto; yang mayoritas penyiar RRI Yogyakarta sendiri.
Pada siang hari kuping bocahku juga diperkenyang dengan pilihan pendengar lewat berbagai stasiun radio. Untuk RRI selain Yogyakarta, ada RRI Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Untuk radio swasta di Yogya tempatku sekolah, ada Arma 11, dan Reco Buntung. Paling gila adalah Radio mahasiswa IAIN Purworejo, pilihan pendengar dari pukul 08.00 hingga 17.00 tanpa henti, padahal pengirim lagu harus bayar. Pendengar anak muda dimanjakan dengan lagu-lagunya Tety Kadi, Titik Sandora – Muhsin, Alfian, Erni Djohan, Anna Mathovani, Tanti Yosepha hingga Vivi Sumanti dan Christine.
Menjelang Lebaran tahun 1968 RPD (Radio Pemerintah Daerah) Purworejo yang kini berganti nama Suara Kenanga, menggelar ucapan selamat Idul Fitri lewat rekaman berbayar. Aku ikut pula merekam suara, dengan meniru-niru aksen penyiar RRI Yogyakarta favoritku. Begitu selesai rekaman, operatornya bilang, “Ee, suaramu kok mirip Bagus Giarto, ya?”. Wah kepalaku langsung membengkak.
Tapi yang paling berkesan adalah, radio Mas Purbo yang bermerk Philips L4 26 T, made in Holland (Belanda). Radio itu berwarna oranye, baterai 6. Bentuknya seperti tas, bisa ditenteng dan antenenya bisa dilipat ke dalam mengikuti bentuk radio tersebut. Suaranya lebih bening, dan menambah gengsi pemiliknya. Bila malam Minggu tiba, kami bocah kampung suka mendengarkan siaran wayang kulit sambil tidur-tiduran di atas drum minyak, sementara orang dewasa duduk-duduk di dalam sambil macit (makan snack) gemblong (juadah). “Kono dha disambi, nganti ketiban lemut gilo (silakan dicoba, tuh sampai keja-tuhan nyamuk),” kata Mas Purbo kuingat jelas waktu itu, sambil mau memompa lampu petromaksnya yang mulai meredup.
Perlu diketahui, di masa itu siaran wayang di radio tak bisa ditemukan sembarang waktu macam sekarang. Ada tradisi setelah kemerdekaan yang hingga kini tak pernah berubah, siaran wayang di RRI digilir setiap minggu. Minggu ke-1 RRI Semarang (gelombang 76 m), minggu ke-2 RRI Yogyakarta (127,6 + 59,43 m), minggu ke-3 RRI Surakarta (63 m + 123 m), minggu ke-4 Jakarta (41 m) atau Surabaya (75 m). Tapi bila terdapat minggu ke-5 pada bulan tersebut, maka minggu ke-4 lowong tanpa siaran wayang kulit.
Saat kawanku, Mulyono – Ganung – Titit mau pergi mengadu nasib ke Palembang pada tahun 1963, radio Mas Purbo disetel di rumah Mul sampai pagi. Malam itu, Sabtu Paing 7 Desember 1963, RRI Yogyakarta siaran langsung wayang kulit dari Gedung PPBI (Persatuan Perusahaan Batik Indonesia), dengan lakon “Karno Tanding” bersama dalang Ki Tjermowasito (Tulung). Yang nonton banyak sekali, tapi baru pukul 04.00 ketika siaran wayang belum usai, radio tersebut sudah dibawa pulang oleh Mas Titon. Ah, aku kecewa sekali waktu itu.
“Nanti kalau aku sudah bisa cari duit sendiri, pengin beli radio seperti itu,” begitu kataku waktu itu, sepotong khayalan dan “dendam” seorang anak kampung. Tapi pada perkembangan selanjutnya, ketika aku sudah bekerja dan punya duit sendiri, radio model punya Mas Purbo sudah tak ada lagi di pasaran, kecuali bikinan Indonesia. Bahkan ketika aku sempat melawat ke Nederland Oktober 1996, radio obsesiku itu tak juga ditemukan meski di negeri asalnya sekalipun.
Sekitar tahun 1966, selama beberapa bulan Lik Misdi pamanku mengikuti pendidikan peternakan di Solo, selepas PHK dari PN Padisentra Ngombol. Sekali waktu dia pulang membawa radio Philips, nggenteni milik Pakde Sarosa yang ditinggalinya selama di Solo. Kami para ponakan berebut menyetel radio itu. Pernah pula malam-malam radio mungil itu kubawa pulang. Susah sekali menangkap siaran. Diputar sana putar sini gelombangnya, hanya dapat lagunya Bing Slamet “Nonton Bioskop” yang sedang ngetop kala itu. “Malam minggu aku pergi ke bioskup, bergandengan ama pacar nonton koboi….”
Begitulah, di kampungku radio mulai mewabah sejak tahun 1967, saat Orde Baru mulai berhasil menggeliatkan ekonomi anak negeri. Harga radio jadi murah. Dengan uang Rp 4.000,- yang berarti senilai emas 8 gram atau padi dua kwintal, orang sudah bisa beli radio transistor berbaterai 3, yang belakangnya ditutup harbord. Bila semalaman nyetel wayang, pagi harinya baterai tersebut dijemur, agar kuat kembali suaranya. Bahkan ada, baterai itu dikukus (direbus) di atas nasi liwetan.
Pak Sis pamanku membeli radio sekitar tahun 1968, merknya Telesonic, model gelombang mata bagongan. Saban Minggu malam, aku sering nonton ke sana, untuk mendengarkan siaran sandiwara radio “Keluarga Yogya” RRI Yogyakarta. Dari pukul 22.30 hingga pukul 23.30, kami biasa mendengarkan kisah-kisah drama bahasa Jawa karya Sumardjono, dengan bintangnya antara lain: Hastin Atas Asih, Habib Bari, Arif Hartojo, Mimi Natakusuma, Subroto, Sri Lestari Kartaningrat, dan Bagus Giarto; yang mayoritas penyiar RRI Yogyakarta sendiri.
Pada siang hari kuping bocahku juga diperkenyang dengan pilihan pendengar lewat berbagai stasiun radio. Untuk RRI selain Yogyakarta, ada RRI Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Untuk radio swasta di Yogya tempatku sekolah, ada Arma 11, dan Reco Buntung. Paling gila adalah Radio mahasiswa IAIN Purworejo, pilihan pendengar dari pukul 08.00 hingga 17.00 tanpa henti, padahal pengirim lagu harus bayar. Pendengar anak muda dimanjakan dengan lagu-lagunya Tety Kadi, Titik Sandora – Muhsin, Alfian, Erni Djohan, Anna Mathovani, Tanti Yosepha hingga Vivi Sumanti dan Christine.
Menjelang Lebaran tahun 1968 RPD (Radio Pemerintah Daerah) Purworejo yang kini berganti nama Suara Kenanga, menggelar ucapan selamat Idul Fitri lewat rekaman berbayar. Aku ikut pula merekam suara, dengan meniru-niru aksen penyiar RRI Yogyakarta favoritku. Begitu selesai rekaman, operatornya bilang, “Ee, suaramu kok mirip Bagus Giarto, ya?”. Wah kepalaku langsung membengkak.
tiga saudara sedang asyik mendengarkan radio, Gunarso, Sukapdi, dan sepupunya Hastoko, asyik mendengarkan pilihan pendengar RPD Purworejo seputar tahun 1973. (Foto: Gts)
Setelah Pak Sis, pemilik radio berikutnya di kampungku, adalah Siwa Pawiro Selung. Beliau juga membeli dengan merk Telesonic, warnanya merah ati. Menyusul kemudian Mbah Wir dan Lik Karsosemadi dengan merk Cawang. Keluargaku sendiri baru memiliki tahun 1968, ketika aku dapat rapelan Ikatan Dinas Rp 8.000,- dari sekolahku, PGAAN Yogyakarta. Rp 4.500,- kubelikan radio, sisanya kuserahkan kepada simbok. Radio itu merknya juga Telesonic, warnanya biru dan modelnya juga mata bagongan. Sejak itu rumahku juga dibanjiri para tetangga, paling setia adalah Yu Welas dan Yu Klamprah. Begitu senangnya aku, setiap pukul 04.00 sudah kusetel men-dengarkan RRI Ujangpandang, sebagaimana kebiasaan Pakde Suryadi di Yogya. Dan karena radio itu pula, aku jadi ngefans sekali pada penyiar RRI Yogyakarta sebagaimana Bagus Giarto, Mimi Notokusuma dan Sri Lestari Kartaningrat.
Yang kusebut terakhir ini orangnya cantik. Aku suka mengaguminya ketika main ke RRI Nusantara II Yogyakarta, beli kartu pilihan pendengar bersama Marno temanku. Tapi untuk bertegur sapa, tak ada keberanian. Sebagai ABG aku merasa malu dan minder. Profesi penyiar bagiku kala itu sangat di awang-awang, begitu hebat sebagaimana presenter TV sekarang.
Mas Syamsudin sepupuku pernah memotret penyiar idola remaja tahun 1970-an itu. Dia mengenakan rok hitam kotak-kotak dengan baju lengan panjang warna putih, dilipat. Setidaknya begitulah yang nampak pada foto berlatar pemancar RRI itu. Dan dengan baju yang sama (1969), Sri Lestari Kartaningrat pernah kulihat di samping boks penyiar sedang mencoba mengangkat beras jatah PNS. Lagi-lagi aku cuma ndomblong (terpana) seakan menatap sebu-ah menara gading!
Aku memang menggemari acara pilpen RRI Yogya. Tapi karena terbatasnya kantong, aku hanya kadangkala saja membeli kartu pilpen tersebut. Maka aku sungguh heran, kawula muda bernama Hartuti – Hardjito kala itu royal banget kirim lagu, setiap acara pilpen pasti tersiar nama mereka. “Oo, itu anak tukang sate depan Stasiun Tugu, langganan RRI,” kata Bu Sri Lestari Kartaningrat saat kutemui di Surabaya tahun 2005.
Radioku Telesonic juga pernah dipinjam Siwo Sari ketika punya hajatan mantu Sunti. Tak tahu siapa yang berulah, bodinya pecah. Aku hanya bisa ngedumel, karena tak tahu harus minta ganti pada siapa. Tapi akupun semakin kecewa, ketika suatu hari dikabari bahwa radio kesayanganku tersebut hilang dicolong maling bersama taplak mejanya. Sedih sekali rasanya hari itu, karena untuk sekian waktu selanjutnya aku tak punya radio lagi di rumah.
Tapi agaknya aku tak bisa lagi hidup tanpa radio. Karena minta pada orangtua tak juga dibelikan, suatu hari aku nekad menjual gelang simbok di Purworejo dan kubelikan radio Sanyo di Malioboro, Yogyakarta. Hari berikutnya aku kembali ke rumah “asrah bongkokan” pada orangtua tentang segala kelancanganku. “Ya wis, jane kuwi gelange wakmu Amat nggunung, ning durung kober mbalekake,” kata simbok tenang. Legalah aku, bagaikan terlepas dari beban satu ton!
Begitulah selanjutnya, aku berganti-ganti radio sesuai seleraku dan kemampuan kantongku. Dari Conion, Philips L-4 produk Indonesia, sampai Telesonic, Johnson dan Nivico. Yang bermerk Philips bahkan sampai 2 biji; aku pakai di Jakarta dan satunya lagu kutinggal di kampung. Tapi keduanya kini telah menjadi bangkai, sementara radio Sanyo yang “beraroma” emas itu di “hari tua”-nya dilungsur mbakyu Klamprah em-boknya Sarino.
Demikian pula radio Telesonic Pak Sis yang semula nggenteni milik Bulik Senthir adiknya di Kroya tersebut, pada akhirnya juga berantakan karena dibuat praktek dik Toko untuk reparasi radio. Tetapi keahlian dalam bidang elektronic tersebut selanjutnya menjadi sumber mata pencaharian Dik Toko hingga kini, “pasien”-nya hampir di seluruh Kecamatan Ngombol. Tapi sesuai dengan tuntutan zaman teknologi, pelanggannya kini bukan lagi radio melainkan teve berwarna dan video. Dik Toko memang terus mengikuti tehnologi perangkat electronik yang terus berkembang pesat dari waktu ke waktu. (Gunarso TS)



Posting Komentar